Tulisan ini merupakan kelanjutan tulisan sebelumnya, Sistem Pendidikan Indonesia yang Salah.
Sudah hal umum jika murid adalah subjek dari proses belajar. Namun pada kenyataannya, murid di sekolah malah menjadi objek belajar.
Kurikulum, mulai dari isi dan cara penyampaiannya, tidak sesuai dengan keinginan siswa. Dan apa yang terjadi?
Ya, mereka harus duduk diam menerima sesuatu yang ‘asing’ (karena tidak bicarakan sebelumnya), bahkan susah untuk membayangkan manfaatnya bagi kehidupan mereka saat kini dan nanti.
Saya pun merasakah hal itu. Bagaimana bisa disebut belajar, jika materinya tidak memberikan dampak dan tidak membekas di hati?.
Qoryah Toyyibah. Sekolah alternatif sekaligus jalan keluar bagi permasalahan pendidikan Indonesia saat ini.
Di sini murid sungguh-sungguh menjadi subjek di sekolah. Murid mempunyai peran kuat di semua aktivitas kehidupan sekolah, mulai dari penentuan materi yang dipelajari, bagaimana dan kapan mereka akan memelajarinya, sampai model pelaporan pencapaian usaha belajar mereka.
Bisa dilihat, sikap mereka selama proses belajar sangat berbeda dari sikap murid-murid di sekolah formal.
Timbul suasana ceria selama bersekolah, sehingga meski waktu belajar resmi sudah usai, mereka enggan beranjak dari sekolah sampai apa yang mereka inginkan tercapai. Hasilnya, PBM (proses belajar mengajar) di Qoryah Toyyibah lebih berhasil mencapai tujuannya dibanding PBM di sekolah formal.
Mereka memelajari sesuatu karena memang benar-benar ingin mendapatkan pengetahuan, lalu memanfaatkan pengetahuan tersebut untuk kepentingan hidupnya dan masyarakat di sekitarnya.
Bagaiamana sekolah yang ada saat ini,
Kebanyakan dari murid hanya (menghafalkan kembali) ketika ujian menjelang. Keinginan atau motivasi untuk belajar sepertinya tidak ada dalam diri mereka.
Lain hal di Di Qoryah Toyyibah, guru dan murid, anggota organisasi yang belajar. Semua saling berinteraksi, memberi dan menerima, belajar dan mengajar. Guru tidak mengambil peran sebagai sumber belajar, tapi lebih sebagai teman berdiskusi atau teman belajar. Semuanya melakukan aktivitas belajar yang sejati, dengan sadar, tanpa adanya paksaan.
Inilah yang selama ini aku ingin post. Tapi itulah masalahnya. Hampir tidak ada waktu untuk blogging. Saban tiap hari menghafal, menghafal, dan menghafal untuk nanti, menghadapi ujian/test.
Filed under: Handikas Ditandai: | Alternatif, Pendidikan, Qoryah Toyyibah













I LIKE THAT
me too
sekolah di Indonesia mestinya diformat demikian, ilmu yang diperoleh menjadi sumber menggali ilmu itu lebih dalam, aspek-aspek dasar belajar adalah berdasar metode ilmiah. dari pijakan ini akan menghasilkan ilmuwan yang update dari sekedar pandai menghafal yang sudah dipelajari orang lain, selamat Qoryah Toyyibah menjadi model… itu baru mimpi dijaga saya
setuju deh, soalnya pernah mengalami juga…menghafal, menghafal & menghafal…tapi sekarang masa itu sudah lewat
mungkin bisa dikasih contoh sekolahnya apa ajah, sama gambarn lbh detailnya bro
perlu banyak belajar nih saya
Betul sekali tuh…saya sendiri sudah lama tidak menyetejui cara cara tersebut termasuk masalah UN (Ujian Nasional), dimana orientasi murid hanya kepada bagaimana Bisa lulus menjawab soal soal yang diberikan di UN itu. Seakan lupa dengan tujuan awal bersekolah menuntut ilmu agar bisa di aplikasikan didalam kehidupan sehari hari.
setuju
Handi, UN hanyalah ujian akhir utk kelulusan yg dilaksanakan secara nasional. Jangan jadi beban, belajar saja sesuai gaya dan cara belajar Handi maupun pelajar lain.
Belajar itu tidak hanya menghafal, hari gini masa masih menghafal! Jika guru di kelas metode mengajarnya membosankan sampaikan saja kritik pada beliau dengan cara sopan hingga bpk ibu guru mengubah metodenya dgn diskusi, bermain peran, di ruang audio visual dgn tampilan power point, film, musik dll. Bisa juga mengajak guru untuk belajar di luar ruang (di halaman sekolah atau lingkungan dekatt sekolah).
Salut untuk Qoryah Thoyibah yang telah membuat siswa asyik belajar hingga bel pulang mereka masih betah di sekolah. Bahkan beberapa siswa telah menghasilkan karya buku, film. Sekolah juga demokratis siswa boleh mengikuti UN dan boleh tidak mengikuti UN.
Mungkin sebaiknya sekolah formal mengadopsi gaya belajar di QT.
Thanks Handi sudah memposting tulisan bagus ttg pendidikan , semoga Handi tetap semangat utk belajar dan tidak lupa nulis di blog. Eh nulis di Blog juga belajar lho! Saya yakin kelak Handi jadi PENULIS Indonesia yang hebat!
makasih banyak sarannya
Menghafal sepertinya tak banyak membantu dalam kehidupan, kecuali menghafal Qur,an
Alhamdulillah, dengan inspiratif itu, kami di Jl. Raya sedatiagung 18 Sidoarjo membuka homeschooling komunitas Kinarya Mulia Sejahtera, bagi yang bertminat hubungi :
Lailil HP. 081330041197
Gunadi HP 081330041195
Assalamu alaikum.Saya seorang pelajar di Madrasah Aliyah “ANNIZHOMIYYAH”,gmn cara menerapkn di sekolah agar siswa,guru bisa menerima sistem PBM yg seperti itu.